BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
Akhir-akhir ini Pembelajaran matematika sedang
marak dibicarakan adalah Realistic Mathematics Education (RME). RME
diketahui sebagai pendekatan yang telah berhasil di Belanda. Gagasan pendekatan pembelajaran matematika dengan
realistik ini tidak hanya populer di Negeri Belanda saja, namun di negara indonesiatelah menggunakan pendekatan
baru yaitu pendekatan realistik. Matematika realistik banyak ditentukan oleh
pandangan Hans Freudenthal tentang matematika. Dua pandangan penting beliau
adalah ‘mathematics must be connected to reality and mathematics as human
activity ’. Pertama, matematika harus dekat terhadap siswa dan harus
relevan dengan situasi kehidupan sehari-hari. Kedua, ia menekankan bahwa
matematika sebagai aktivitas manusia, sehingga siswa harus di beri kesempatan
untuk belajar melakukan aktivitas semua topik dalam matematika.
RME (Realistic Mathematics Education) adalah pendekatan pengajaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang ‘real‘
bagi siswa, menekankan keterampilan ‘proses of doing mathematics’,
berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan teman sekelas sehingga
mereka dapat menemukan sendiri (‘student inventing‘ sebagai kebalikan
dari ‘teacher telling’) dan pada akhirnya menggunakan matematika itu
untuk menyelesaikan masalah baik secara individu maupun kelompok. Pada
pendekatan ini peran guru tak lebih dari seorang fasilitator,moderator atau
evaluator sementara siswa berfikir, mengkomunikasikan, melatih nuansa demokrasi
dengan menghargai pendapat orang lain.
1.2RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pengertian pendekatan
pembelajaran RME (Realistic Mathematics Education)?
2.Apa saja komponenpendekatan pembelajaran RME (Realistic Mathematics
Education)?
3.Apa saja prinsip
dan ciri-ciri pendekatan pembelajaran RME (Realistic Mathematics Education)?
4.Apa saja tipe
matematisasipendekatan pembelajaran RME (Realistic Mathematics
Education)?
5. bagaimana
tahap-tahap pendekatan pembelajaran RME (Realistic Mathematics Education)?
6. apa saja
manfaat pendekatan pembelajaran RME (Realistic Mathematics Education)?
7. apa saja
kelebihan dan kekurangan pendekatan pembelajaran RME (Realistic Mathematics
Education)?
1.3 TUJUAN
1. memahami pengertian pendekatan
pembelajaran RME (Realistic Mathematics Education)?
2.memahami komponenpendekatan pembelajaran RME (Realistic Mathematics
Education)?
3.memahami
prinsip dan ciri-ciri pendekatan pembelajaran RME (Realistic Mathematics
Education)?
4. memahami
tipe matematisasipendekatan pembelajaran RME (Realistic Mathematics
Education)?
5. memahami
tahap-tahap pendekatan pembelajaran RME (Realistic Mathematics Education)?
6. memahami
manfaat pendekatan pembelajaran RME (Realistic Mathematics Education)?
7. memahami
kelebihan dan kekurangan pendekatan pembelajaran RME (Realistic Mathematics
Education)?
BAB II
KAJIAN
PUSTAKA
Dalam makalah ini, penulis mencoba mengetengahkan
beberapa teoristik dalam penerapannya dalam pembelajaran matematika, baik itu
teori yang berasal dari RME(Realistic Mathematics Education) dari negara asalnya ataupun
penerapan dan perkembagannya di Indonesia.
A. Pradigma
Baru Pendidikan
Menurut Zamroni (2000) dalam Hadi (2003) paradigma
baru pendidikan menekankan bahwa proses pendidikan formal sistem persekolahan
harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Pendidikan
lebih menekankan pada proses pembelajaran (learning) daripada mengajar (teaching);
2) Pendidikan diorganisir dalam suatu struktur
yang fleksibel;
3) Pendidikan
memperlakukan peserta didik sebagai individu yang memiliki karakteristik khusus
dan mandiri; dan
4) Pendidikan
merupakan proses yang berkesinambungan dan senantiasa berinteraksi dengan
lingkungan dan pengetahuan yang dimiliki setiap siswa.
Sehubungan dengan pendapat tentang pradigma pendidikan
baru tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam proses belajar mengajar siswa
harus senantiasa diaktifkan dalam menggali pengetahuannya, pendidikan saat ini
harus mengikuti perkembangan zamannya, dalam pendidikan perlunya penyesuaian
dengan kemampuan yang dimiliki anak, dan pendidikan hendaknya tidak semata-mata
terjadi di kelas saja.
Selanjutnya dalam Sutarto Hadi (2003) bahwa RME
mempunyai konsep tentang siswa, peran guru, dan proses pengajaran yang
membedakan dengan pendekatan belajaran lainnya.
Konsep Terhadap Siswa
Ø
RME memiliki konsep tentang siswa
sebagai berikut:
1) Siswa
memiliki seperangkat konsep alternatif tentang ide-ide matematika yang
mempengaruhi belajar selanjutnya;
2) Siswa
memperoleh pengetahuan baru dengan membentuk pengetahuan itu untuk dirinya
sendiri;
3) Pembentukan pengetahuan merupakan proses
perubahan yang meliputi penambahan, kreasi, modifikasi,penghalusan, penyusunan
kembali, dan penolakan;
4) Pengetahuan
baru yang dibangun oleh siswa untuk dirinya sendiri berasal dari seperangkat
ragam pengalaman;
5) Setiap
siswa tanpa memandang ras,suku,budaya dan jenis kelamin mampu memahami dan
mengerjakan matematika.
Konsep Terhadap Guru
Ø
RME mempunyai konsepsi tentang guru
sebagai berikut:
1) Guru hanya sebagai fasilitator dan
motivator belajar;
2) Guru harus mampu membangun pengajaran
yang interaktif;
3) Guru
harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif menyumbang pada
proses belajar dirinya, dan secara aktif membantu siswa dalam menafsirkan
persoalan riil; dan
4) Guru
tidak terpancang pada materi yang termaktub dalam kurikulum, melainkan aktif
mengaitkan kurikulum dengan dunia-riil, baik fisik maupun sosial.
Konsep Terhadap Pengajaran
Ø
Pengajaran matematika dengan
pendekatan RME meliputi aspek-aspek berikut:
1) Memulai
pelajaran dengan mengajukan masalah (soal) yang “riil(nyata)” bagi siswa sesuai
dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya, sehingga siswa segera terlibat
dalam pelajaran secara bermakna;
2) Permasalahan
yang diberikan tentu harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
dalam pelajaran tersebut;
3) Siswa
mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terhadap
persoalan/masalah yang diajukan;
4) Pengajaran
berlangsung secara interaktif: siswa menjelaskan dan memberikan alasan terhadap
jawaban yang diberikannya, memahami jawaban temannya (siswa lain), setuju
terhadap jawaban temannya, menyatakan ketidaksetujuan, mencari alternatif
penyelesaian yang lain; dan melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang
ditempuh atau terhadap hasil pelajaran.
B. Soal-soal Kontekstual dan
Macamnya
Dalam Zulkardi dan Ratu Ilma dinyatakan bahwa
Pembelajaran matematika di sekolah haruslah bermakna dan berguna bagi
anak dalam kehidupan mereka sehari-hari. Soal kontekstual matematika adalah
merupakan soal-soal matematika yang menggunakan berbagai konteks sehingga
menghadirkan situasi yang pernah dialami secara real bagi anak. Pada soal
tersebut, konteksnya harus sesuai dengan konsep matematika yang sedang
dipelajari. Konteks itu sendiri dapat diartikan dengan situasi atau
fenomena/kejadian alam yang terkait dengan konsep matematika yang sedang
dipelajari.
Sementara itu dalam RME soal-soal yang digunakan
adalah soal-soal yang berkonteks sebagai titik awal bagi siswa dalam
mengembangkan pengertian matematika dan sekaligus menggunakan konteks tersebut
sebagai sumber aplikasi matematika.
Menurut de Lange (1987, dalam Zulkardi) ada empat
macam masalah konteks atau situasi, yaitu:
1)
Personal Siswa
Situasi yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari
siswa baik di rumah dengan keluarga, dengan teman sepermainan, teman sekelas
dan kesenangannya.
2) Sekolah/ Akademik
Situasi yang
berkaitan dengan kehidupan akademik di sekolah, di ruang kelas, dan
kegiatan-kegiatan yang terkait dengan proses pembelajaran.
3)
Masyarakat / Publik
Situasi yang terkait dengan kehidupan dan aktivitas
masyarakat sekitar dimana siswa tersebut tinggal.
4)
Saintifik / Matematik
Situasi yang berkaitan dengan fenomena dan substansi
secara saintifik atau berkaitan dengan matematika itu sendiri.
Tujuan penggunaan konteks adalah untuk menopang
terlaksananya proses guided reinvention (pembentukan model, konsep,
aplikasi, dan mempraktekkan skill
tertentu). Selain itu, penggunaan konteks dapat memudahkan siswa untuk
mengenali masalah sebelum memecahkannya. Konteks dapat dimunculkan tidak
harus pada awal pembelajaran tetapi juga pada tengah proses pembelajaran, dan
pada saat asesmen atau penilaian.
C. Desain
Pembelajaran Matematika Realistik
Desain pembelajaran matematika realistik, sebagai
berikut.
a.
Tujuan
Lange (1995) menyatakan bahwa terdapat tiga tingkatan
tujuan dalam pendidikan matematika yaitu:
(1)
Lower level
(2)
Middle level
(3)
Higher order level
Pembelajaran matematika realistik haruslah meliputi
semua tingkatan tujuan. Tingkat rendah lebih difokuskan pada pengetahuan
konseptual dan prosedural. Tingkat menengah dan atas lebih difokuskan kepada
kemampuan pemecahan masalah, berargumentasi, berkomunikasi, dan pembentukan
sikap kritis siswa.
b.
Materi
Lange (1996) menegaskan bahwa “Materi merupakan
asosiasi aktivitas kehidupan nyata yang sangat spesifik, pengetahuan dan
strategi digunakan dalam konteks dari situasi”. Beragam soal kontekstual
digabungkan dalam kurikulum di mulai dari awal.
c.
Aktivitas
Peran guru dalam pembelajaran matematika realistik di
dalam kelas (Lange, 1996; Gravemeijer, 1994) adalah sebagai fasilitator,
pengatur, penterjemah, dan evaluator sebagai dasar dari suatu proses
matematika, secara umum dapat digambarkan langkah-langkah peran guru sebagai
proses dasar dalam pembelajaran matematika realistik sebagai berikut.
1. Berikan soal
kontekstual pada siswa yang berhubungan dengan topik pembelajaran sebagai titik
awal.
2. Pada waktu
terjadi interaksi, berikan siswa petunjuk contohnya, dengan menggambarkan tabel
pada papan tulis, memadu siswa seorang-seorang atau dalam kelompok kecil yang
sekiranya membutuhkan bantuan guru.
3. Memberikan
kesempatan kepada siswa untuk membandingkan jawaban mereka dengan jawaban
temannya dalam diskusi kelas. Diskusi bertujuan untuk mengarahkan interpretasi
siswa dalam menterjemahkan soal kontekstual dan menyimpulkan solusi yang lebih
efisien dari beberapa jawaban yang bervariasi.
4. Biarkan
siswa menemukan solusi dengan cara mereka sendiri. Artinya siswa bebas untuk
membuat pernyataan dengan tingkat kemampuannya, untuk membangun pengalaman
dalam pengetahuan, dan memainkan jawaban pendek pada langkah-langkah yang
mereka kerjakan.
5.
Berikan soal
lain dalam konteks yang sama.
6. Dalam hal
lain, peranan siswa dalam pembelajaran matematika realistik harus bekerja
sendiri-sendiri atau kelompok, mereka harus lebih percaya diri sendiri, dan
mereka menjawab dengan free production atau kontribusi.
d.
Evaluasi
Lange (1995) merumuskan lima prinsip dalam evaluasi
yang dapat dijadikan acuan dalam membuat evaluasi dalam pembelajaran matematika
realistik, yaitu:
1. Tujuan dasar
tes adalah untuk meningkatkan kualitas belajar dan mengajar. Artinya evaluasi
harus dapat mengukur siswa selama pembelajaran, bukan sekedar penyediaan
informasi tentang hasil belajar dalam bentuk nilai.
2. Metode
penilaian harus dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan siswa untuk
menggambarkan apa yang mereka ketahui bukan mengungkapkan apa yang tidak mereka
ketahui. Hal tersebut dapat diadakan dengan memiliki soal yang terbuka, atau
mempunyai strategi jawaban yang berbeda.
3. Tes harus
melibatkan semua tujuan dari pendidikan matematika, proses berfikir tingkat
rendah, menengah, dan tinggi.
4. Alat
evaluasi harus bersifat praktis, sehingga kontruksi tes dapat disusun dengan
format yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan serta pencapaian tujuan yang
ingin diungkapkan.
BAB
III
PEMBAHASAN
3.1 Pengertian Realistic
Mathematics Education (RME)
Kata “realistik” merujuk pada pendekatan dalam pendidikan matematika yang
telah dikembangkan di Belanda selama kurang lebih 30 tahun. Pendekatan ini
mengacu pada pendapat Freudenthal (dalam
Gravemeijer, 1994) yang mengatakan bahwa matematika harus dikaitkan dengan
realita dan kegiatan manusia. Pendekatan ini kemudian dikenal dengan Realistic
Mathematics Education (RME).
Realistic Mathematics Education (RME) atau Pembelajaran Matematika
Realistik Indonesia (PMRI) merupakan teori belajar mengajar dalam pendidikan matematika. Teori RME
ini mengacu fakta pendapat freundenthal (Asmin, 2001) yang juga mengatakan bahwa "matematika harus dekat dengan anak dan relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari".
Soedjadi (2001: 2) mengemukakan
bahwa pembelajaran matematika realistik
pada dasarnya pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami peserta didik
untuk memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga dapat mencapai
tujuan pendidikan matematika secara lebih baik dari pada masa lalu. Lebih
lanjut Soedjadi menjelaskan yang dimaksud dengan realitas yaitu hal-hal nyata
atau konkrit yang dapat dipahami atau diamati peserta didik lewat membayangkan,
sedang yang dimaksud dengan lingkungan adalah lingkungan tempat peserta didik
berada baik lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat yang dapat dipahami
peserta didik. Lingkungan ini juga disebut juga kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran matematika realistik adalah atau Realistic Mathematics Education (RME)
adalah sebuah pendekatan pembelajaran matematika yang dikembangkan Hans Freudenthal di Belanda.Gravemeijer (1994: 82) dimana menjelaskan bahwa
yang dapat digolongkan sebagai aktivitas tersebut meliputi aktivitas pemecahan
masalah, mencari masalah dan mengorganisasi pokok persoalan.Matematika
realistik yang dimaksudkan dalam hal ini adalah matematika sekolah yang
dilaksanakan dengan menemaptkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik
awal pembelajaran.Masalah-masalah realistik digunakan sebagai sumber munculnya
konsep-konsep matematika atau pengetahuan matematika formal.
Karakteristik RME menggunakan:
konteks “dunia nyata”, model-model, produksi dan kontruksi siswa, interaktif
dan keterkaitan. Pembelajaran matematika realistik diawali dengan masalah-masalah
yang nyata, sehingga siswa dapat menggunakan pengalaman sebelumnya secara
langsung.Dengan pembelajaran matematika realistik siswa dapat mengembangkan
konsep yang lebih komplit.Kemudian siswa juga dapat mengaplikasikan
konsep-konsep matematika ke bidang baru dan dunia nyata.
3.2 Komponen
Realistic Mathematics Education (RME)
Menurut Soedjadi (2001:3)
pembelajaran matematika realistik mempunyai beberapa karakteristik dan komponen
sebagai berikut:
Ø The use of context (menggunakan konteks),
artinya dalam pembelajaran matematika realistik lingkungan keseharian atau
pengetahuan yang telah dimiliki siswa dapat dijadikan sebagai bagian materi
belajar yang kontekstual bagi siswa.
Ø Use models, bridging by
vertical instrument (menggunakan model), artinya permasalahan atau ide dalam matematika dapat
dinyatakan dalam bentuk model, baik model dari situasi nyata maupun model yang
mengarah ke tingkat abstrak.
Ø Students constribution (menggunakan kontribusi
siswa), artinya pemecahan masalah atau penemuan konsep didasarkan pada
sumbangan gagasan siswa.
Ø Interactivity (interaktif), artinya aktivitas proses
pembelajaran dibangun oleh interaksi siswa dengan siswa, siswa dengan guru,
siswa dengan lingkungan dan sebagainya.
Ø Intertwining (terintegrasi dengan topik
pembelajaran lainnya), artinya topik-topik yang berbeda dapat diintegrasikan
sehingga dapat memunculkan pemahaman tentang suatu konsep secara serentak.
3.3 Prinsip dan ciriRealistic Mathematics Education (RME)
Terdapat prinsip-prinsip pembelajaran realistik dalam kurikulum matematika
realistik yaitu:
Ø Didominasi oleh masalah-masalah dalam konteks,
melayani dua hal yaitu sebagai sumber dan sebagai terapan konsep matematika.
Ø Perhatian diberikan kepada pengembangan model-model,
situasi, skema, dan simbol-simbol.
Ø Sumbangan dari para siswa, sehingga siswa dapat
membuat pembelajaran menjadi konstruktif dan produktif, siswa memproduksi
sendiri dan mengkonstruksi sendiri sehingga dapat membimbing para siswa dari
level matematika informal menuju matematika formal.
Ø Interaktif sebagai karakteristik dari proses
pembelajaran matematika
Ø Interwinning (membuat jalinan) antar topik atau antar pokok
bahasan.
Menurut Treffers dan Goffree (2004) bahwa masalah kontekstual dalam
kurikulum realistik, berguna untuk mengisi sejumlah fungsi:
Ø Pembentukan konsep: Dalam fase pertama pembelajaran,
para siswa diperkenankan untuk masuk ke dalam matematika secara ilmiah dan
termotivasi.
Ø Pembentukan model: Masalah-masalah konstekstual
memasuki fondasi siswa untuk belajar operasi, prosedur, notasi, aturan, dan
mereka mengerjakan ini dalam kaitannya dengan model-model lain yang kegunaannya
sebagai pendorong penting dalam berpikir.
Ø Penerapan : masalah konstektual menggunakan reality sebagai sumber dan domain untuk terapan.
Ø Praktek dan
latihan dari kemampuan spesifik dalam situasi terapan.
Ciri – CiriRealistic Mathematic Education(RME)
Fauzan
(2001:2) mengemukakan bahwa pembelajaran yang menggunakan RME memiliki beberapa
ciri, yaitu:
- Matematika
dipandang sebagai kegiatan manusia sehari-hari, sehingga memecahkan
masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari (contextual problem) merupakan bagian yang esensial.
- Belajar
matematika berarti bekerja dengan matematika (doing mathematics).
- Siswa
diberi kesempatan untuk menemukan konsep-konsep matematika di bawah
bimbingan orang dewasa (guru).
- Proses
belajar mengajar berlangsung secara interaktif dan siswa menjadi fokus
dari semua aktivitas di kelas.
- Aktivitas
yang dilakukan meliputi: menemukan masalah-masalah kontekstual (looking for problems), memecahkan
masalah (solving problems), dan
mengorganisir bahan ajar (organizing
a subject matter).
3.4 Tipe Matematisasi dalam Realistic Mathematic Education
(RME)
Menurut Treffers dan Goffree (2003) terdapat dua tipe matematisasi yang
dikenal dalam Realistic Mathematic Education (RME) yaitu:
Ø Matematisasi horizontal
Proses matematika horizontal
pada tahapan menengah persoalan sehari-hari menjadi persoalan matematika
sehingga dapat diselesaikan atau situasi nyata diubah ke dalam simbol-simbol
dan model-model matematika.
Ø Matematisasi vertikal
Proses matematika pada tahap
penggunaan simbol, lambang kaidah-kaidah matematika yang berlaku secara umum.
3. 5 Tahap Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME)
Berdasarkan prinsip dan karakteristik RME serta memperhatikan berbagai pendapat
tentang proses pembelajaran matematika dengan pendekatan RME di atas, maka
disusun langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan RME sebagai berikut :
Langkah 1. Memahami masalah kontekstual
Guru
memberikan masalah kontekstual sesuai dengan materi pelajaran yang sedang
dipelajari siswa. Kemudian meminta siswa untuk memahami masalah yang diberikan
tersebut. Jika terdapat hal-hal yang kurang dipahami oleh siswa, guru
memberikan petunjuk seperlunya terhadap bagian-bagian yang belum dipahami
siswa.
Karakteristik
RME yang muncul pada langkah ini adalah karakteristik pertama yaitu menggunakan
masalah kontekstual sebagai titik tolak dalam pembelajaran, dan karakteristik
keempat yaitu interaksi.
Langkah 2. Menyelesaikan masalah kontekstual
Siswa mendeskripsikan
masalah kontekstual, melakukan interpretasi aspek matematika yang ada pada
masalah yang dimaksud, dan memikirkan strategi pemecahan masalah, selanjutnya
siswa bekerja menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri berdasarkan
pengetahuan awal yang dimilikinya, sehingga dimungkinkan adanya perbedaan
penyelesaian siswa yang satu dengan yang lainnya. Guru mengamati, memotivasi,
dan memberi bimbingan terbatas, sehingga siswa dapat memperoleh penyelesaian
masalah-masalah tersebut.
Karakteristik
RME yang muncul pada langkah ini yaitu karakteristik kedua mernggunakan model.
Langkah 3. Membandingkan dan mendiskusikan jawaban.
Guru menyediakan waktu dan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan dan
mendiskusikan jawaban mereka secara berkelompok, selanjutnya membandingkan dan
mendiskusikan pada diskusi kelas. Pada tahap ini, dapat digunakan siswa untuk
berani mengemukakan pendapatnya meskipun pendapat tersebut berbeda dengan
lainya.
Karakteristik pembelajaran matematika realistik yang tergolong dalam langkah
ini adalah karakteristik ketiga yaitu menggunakan kontribusi siswa (students constribution) dan karakteristik
keempat yaitu terdapat interaksi
(interactivity) antara siswa dengan siswa yang lain.
Langkah 4. Menyimpulkan.
Berdasarkan hasil diskusi kelas, guru memberi kesempatan pada siswa untuk
menarik kesimpulan suatu konsep atau prosedur yang terkait dengan masalah
realistic yang diselesaikan.
3.6 Manfaat Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME)
Pembelajaran dengan
menggunakan pendekatan realistic
mathematic education (RME) diawali dengan
fenomena, kemudian siswa dengan bantuan guru diberikan kesempatan menemukan
kembali dan mengkonstruksi konsep sendiri.
Setelah itu, diaplikasikan dalam masalah sehari-hari atau dalam bidang lain.
Adapun manfaat dari pembelajaraan
RME adalah :
· Untuk siswa
1. Siswa lebih
mudah menyelesaikan masalah dikaitkan dengan masalah-masalah dalam kehidupan
nyata.
2. Siswa dapat
menyelesaikan secara informal sebelum menggunakan secara formal sehingga
mendorong siswa untuk belajar di dalam kehidupan nyata.
3.
Siswa dapat
mengkonstruk pengetahuannya sendiri dan lebih aktif.
·
Untuk Guru
1. Membantu
Guru dalam pemahaman masalah
2. Guru dapat
mengetahui seberapa jauh pemahaman siswa terhadap konsep masalah yang ada.
3. Guru dapat
mengaitkan topik dengan masalah kehidupan sehari-hari.
4. Guru hanya sebagai fasilitator belajar dan mampu membangun pengajaran yang
interaktif.
3.7 kelebihan dan kekurangan Realistic Mathematic Education
·
Kelebihan
Menurut
suwarsono (2001:5) terdapat kekuatan atau kelebihan dari pembelajaran
matematika realistik, yaitu :
- Pembelajaran
matematika realistik memberikan pengertian yang jelas kepada siswa tentang
keterkaitan matematika dengan kehidupan sehari-hari dan kegunaan pada
umumnya bagi manusia.
- Pembelajaran
matematika realistik memberikan pengertian yang jelas kepada siswa bahwa
matematika adalah suatu bidang kajian yang dikonstruksi dan dikembangkan
sendiri oleh siswa tidak hanya oleh mereka yang disebut pakar dalam bidang
tersebut.
- Pembelajaran
matematika realistik memberikan pengertian yang jelas kepada siswa bahwa
cara penyelesaian suatu soal atau masalah tidak harus tunggal dan tidak
harus sama antara yang satu dengan yang lain. Setiap orang bisa menemukan
atau menggunakan cara sendiri, asalkan orang itu sungguh-sungguh dalam
mengerjakan soal atau masalah tersebut. Selanjutnya dengan membandingkan
cara penyelesaian yang satu dengan cara penyelesaian yang lain, akan bisa
diperoleh cara penyelesaian yang paling tepat, sesuai dengan tujuan dari
proses penyelesaian masalah tersebut.
- Pembelajaran
matematika realistik memberikan pengertian yang jelas kepada siswa bahwa
dalam mempelajari matematika, proses pembelajaran merupakan suatu yang
utama dan orang harus menjalani proses itu dan berusaha untuk menemukan
sendiri konsep-konsep matematika dengan bantuan pihak lain yang sudah tahu
( misalnya guru ). Tanpa kemauan untuk menjalani sendiri proses tersebut,
pembelajaran yang bermakna tidak akan tercapai.
·
Kekurangan
Adanya persyaratan-persyaratan tertentu agar
kelebihan RME dapat muncul justru menimbulkan kesulitan tersendiri dalam
menerapkannya. Kesulitan-kesulitan tersebut, yaitu :
- Tidak
mudah untuk merubah pandangan yang berdasar tentang berbagai hal, misalnya
mengenai siswa, guru dan peranan soal atau masalah konstektual, sedang
perubahan itu merupakan syarat untuk dapat diterapkannya RME.
- Pencarian
soal-soal konstektual yang memenuhi syarat-syarat yang dituntut dalam
pembelajaran matematika realistik tidak selalu mudah untuk setiap pokok
bahasan matematika yang dipelajari siswa, terlebih-lebih karena soal-soal
tersebut harus bisa diselesaikan dengan bermaca-macam cara
- Tidak
mudah bagi guru untuk mendorong siswa agar bisa menemukan berbagai cara
dalam menyelesaikan soal atau memecahkan masalah
- Tidak
mudah bagi guru untuk memberi bantuan kepada siswa agar dapat melakukan
penemuan kembali konsep – konsep atau prinsip – prinsip matematika yang
dipelajari.
BAB IV
PENUTUP
4.1 SIMPULAN
Pendekatan realistik adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang
menerapkan agar pembelajaran bertitik tolak pada hal-hal yang nyata bagi siswa, menekankan keterampilan berdiskusi, dan berargumentasi dengan
teman sekelas. Sehingga mereka dapat menemukan sendiri, dan pada akhirnya menggunakan matematika dalam menyelesaikan masalah baik secara individu
maupun secara kelompok. Tidak ada satupun model pembelajaran
yang diangap paling baik diantara model- model pembelajaran yang lain. Tiap
model pembelajaran mempunyai karakteristik tertentu dengan segala kelebihan dan
kelemahan masing- masing. Suatu model pembelajaran jika digunakan sesuai
situasi dan kondisi pasti akan jadi model pembelajaran yang baik.
4.2 SARAN
Berdasarkan
simpulan dari penulisan ini untuk mencapai kesuksesan dalam pembelajaran
realistik penulis memberikan saran – saran sebagai berikut:
1.
Diperlukan adanya kesadaran siswa
dalam bertanggung jawab terhadap setiap pelajaran yang dipelajari disekolah.
2.
Diperlukan adanya kesadaran antara
pengajar dengan siswa agar pembelajaran realistik dapat berjalan dengan baik.
3.
Setiap pengajar diharapkan menguasai
bermacam- macam metode pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas.
2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Standar Kompetensi SMP dan MTs. Jakarta : Depdiknas.
Marpaung, Y.
2006. Sintaks Pembelajaran dan Soal PMRI.
(Penggalan makalah yang disampaikan pada seminar dan lokakarya pembelajaran
matematika). Yogyakarta : PPPG Matematika.
Rahayu, Endang Diningsih. 2008.
Metode Pembelajaran Realistik. Skripsi tidak diterbitkan. Tulungagung . STKIP
PGRI Tulungagung.
Supinah.
2007. Pembelajaran Matematika dengan
Model PMRI. Yogyakarta : PPPG Matematika.
Suryanto
& Sugiman. 2003. Pembelajaran
Matematika Realistik (Disampaikan pada seminar Pendekatan realistik dan
sani dalam Pendidikan Matematika di Indonesia). Yogyakarta : Universitas Sanata
Dharma.
Wikipedia. 2009 Pendidikan, (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan diakses pada tanggal 2 Desember 2009)
Wordpress.2009 Pembelajaran realistik, (online), (http://ipotes.wordpress.com/Pembelajaran Realistik) diakses pada tanggal 17 Desember 2009)
RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )
Sekolah : SMK Al Jabbar Ciledug
Mata Pelajaran : Matematika – Wajib
Kelas/Semester : X/1
Materi Pokok : Barisan dan Deret Aritmatika
Alokasi Waktu : 2 x 45 Menit
A.
KOMPETENSI
INTI
1. Menghayatidan mengamalkan
ajaranagamayangdianutnya.
2. Menghayatidanmengamalkan perilaku
jujur, disiplin, tanggungjawab,
peduli (gotong royong, kerjasama,
toleran, damai),santun, responsifdan pro-aktif dan
menunjukkan sikap sebagai bagian darisolusi
atas berbagai
permasalahan
dalam berinteraksi
secaraefektif dengan
lingkungan
sosial
dan alam sertadalam
menempatkan diri sebagai cerminan bangsadalam
pergaulan
dunia.
3. Memahami, menerapkan,dan
menganalisispengetahuan
faktual, konseptual, prosedural, dan
metakognitif berdasarkan
rasaingin tahunyatentangilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya,
dan humanioradengan
wawasan
kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan,dan peradaban
terkaitpenyebab fenomenadan
kejadian, serta menerapkan pengetahuan
prosedural padabidangkajian
yangspesifik sesuai
dengan bakat dan minatnyauntuk memecahkan
masalah.
4. Mengolah,
menalar, dan menyajidalam
ranah konkret dan
ranahabstrak
terkait
dengan pengembangan dari yangdipelajarinyadi sekolah
secaramandiri, bertindak
secara efektif dankreatif,serta
mampu menggunakan metoda sesuai
kaidah keilmuan.
B.
KOMPETENSI
DASAR DAN INDIKATOR
|
2.1
Memilikimotivasiinternal, kemampuan
bekerjasama,
konsisten, sikap disiplin,
rasa percayadiri,
dan sikap toleransi dalam perbedaan strategi
berpikir dalammemilih dan menerapkan
strategi menyelesaikan
masalah.
1. Bekerjasama dalam kegiatan kelompok
dengan baik.
2. Toleran terhadap
proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif dengan baik.
2.2 Mampu mentransformasidiri dalam berpilaku jujur, tangguh
mengadapi masalah,
kritis dan disiplin dalam
melakukan tugas belajar
matematika.
2.3
Menunjukkan sikap bertanggungjawab,
rasa
ingin tahu, jujurdan perilakupedulilingkungan.
1.
Terlibat aktif dalam pembelajaran barisan dan deret dengan baik
|
|
|
3.1
Memprediksipola barisan
dan deretaritmetika.lainnyamelalui pengamatan dan memberikan alasannya.
1. Menelaah pola barisan dan deret
dengan teliti
4.1
Menyajikan hasil,menemukan
pola barisan dan deret dan penerapannyadalam
penyelesaian masalah sederhana
|
|
|
1. Terampil
menerapkan pola barisan dan deret dengan benar.
C.
TUJUAN
PEMBELAJARAN
Dengan kegiatan
diskusi dan pendekatan
pembelajaran RME dalam pembelajaran barisan dan deret ini,
diharapkan siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran dan
bertanggungjawab dalam menyampaikan pendapat, menjawab pertanyaan, memberi
saran dan kritik, serta dapat:
1. Menjelaskan
kembali pengertian barisan dan deret aritmatika secara tepat, sistematis, dan menggunakan notasi yang benar.
D. MATERI PELAJARAN
Mengamati dan memahami pola barisan
dan deret pada buku siswa .
|
E.
MODEL/METODE
PEMBELAJARAN
Pendekatan pembelajaran adalah pendekatan RME(Realistik
Mathemathics Education). Pembelajaran menggunakan
metode diskusi kelompok berbasis penyelesaian masalah (problem based learning).
F.
KEGIATAN
PEMBELAJARAN
|
KEGIATAN
|
DESKRIPSI KEGIATAN
|
ALOKASI
WAKTU
|
|
Pendahuluan
|
1. Guru
memberi salam dan Murid menjawabnya.
2. Guru
mengecek kehadiran siswa dan menyampaikan tujuan pembelajaran
3. Memotivasi
dan Mengaitkan materi dengan pengetahuan awal yang di miliki oleh siswa dan
Sebagai apersepsi untuk mendorong rasa ingin tahu dan berpikir kritis, siswa
diajak menghitung susunan batang bambu seperti pada gambar berikut:
4. Siswa
menduga banyaknya bambu pada urutan ke 4,5,6
5. Siswa
menduga jumlah semua bambu yang digunakan pada gambar tersebut
|
15
menit
|
|
Inti
|
1. Siswa
menelaah pada buku paket Matematika selama 5 menit.
2. Siswa
mencoba membuat sebuah pola dengan batang korek api, kemudian mencoba
menentukan urutan ke lima dan jumlah batang korek api yang digunakan sampai
urutan ke lima dalam waktu 10 menit.
3. Siswa diminta untuk
membentuk kelompok seperti yang telah ditentukan guru sebelumnya;
4. Guru menampilkan
permasalahan/kasus untuk memberikan gambaran yang berkaitan dengan dengan
konsep pola barisan dan
deret aritmatika
5. Guru memberikan LKS (Lembar Kerja Siswa) yang sesuai dengan
permasalahan yang ditampilkan.
6. Guru meminta siswa untuk
berdiskusi dalam menyelesaiakan permasalahan yang diberikan dalam LKS dengan
menggunakan konsep yang telah dipelajari sebelumnya dengan pemanfaatan buku
sumber untuk penguatan konsep
7. Siswa mempresentasikan
hasil diskusi kelompok
8. Siswa mengerjakan kuiz (tes kecil)
|
55
menit
|
|
Penutup
|
1. Siswa
menyimpulkan pola barisan dan deret bersama guru
2. Siswa
mendapat tugas untuk mencari 3 buah pola barisan/deret di lingkungan tempat
tinggalnya secara kelompok, dikumpulkan pada pertemuan berikutnya
3. Guru
mengakhiri kegiatan belajar dengan berdoa dan memberi motivasi.
|
10
menit
|
G.
MEDIA
PEMBELAJARAN
1. Kotak korek api/bahan lain
yang ada di lingkungan sekolah
2. Perangkat komputer dan LCD
3. Lembar penilaian
H.
SUMBER
PEMBELAJARAN
1. Buku
paket Matematika kelas X
I.
PENILAIAN
HASIL BELAJAR
1. Teknik
penilaian : pengamatan, tes tertulis, proyek
2. Prosedur
penilaian:
|
NO
|
ASPEK YANG DINILAI
|
TEKNIK PENILAIAN
|
WAKTU PENILAIAN
|
|
1
|
Sikap
a.
Terlibat aktif dalam pembelajaran pola
barisan dan deret
b.
Bekerjasama dalam kegiatan kelompok
c.
Toleran terhadap proses pemecahan masalah
yang berbeda dan kreatif
|
Teknik:Pengamatan
Bentuk:
Lembar
Pengamatan
|
Selama
pembelajaran dan saat diskusi
|
|
2
|
Pengetahuan
Menjelaskan kembali pengertian pola barisan dan deret
|
Teknik:
tes tertulis
Instrumen:
berbentuk uraian
|
Setelah
diskusi
|
|
3
|
Penutup
Terampil menerapkan pola barisan dan deret
|
Bentuk:
Proyek
Instrumen:
Rubrik Proyek
|
Penyelesaian
tugas kelompok
|
J.
INSTRUMEN
PENILAIAN HASIL BELAJAR
a.
Tes Tertulis
LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN SIKAP
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester
: X/1
Tahun Pelajaran : 2013/2014
Waktu Pengamatan : Selama proses pengamatan
Indikator
sikap aktif dalam pembelajaran barisan dan deret
1. Kurang baik jika menunjukkan
samasekali tidak ambil bagian dalampembelajaran
2. Baik jika menunjukkan
sudah ada usaha ambil bagian dalam pembelajaran tetapi belum ajeg/konsisten
3. Sangat baik jika menunjukkan
sudah ambil bagian dalam menyelesaikan tugas kelompok secara terus menerus dan
ajeg/konsisten
Indikator
sikap bekerjasama dalam kegiatan kelompok.
1. Kurang baik jika sama
sekali tidak berusaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok.
2. Baik jika menunjukkan sudah ada usaha
untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok tetapi masih belum ajeg/konsisten.
3. Sangat baik jika menunjukkan
adanya usaha bekerjasama dalam kegiatan kelompok secara terus menerus dan
ajeg/konsisten.
Indikator sikap toleran terhadap
proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
1. Kurang baik jika sama
sekali tidak bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda
dan kreatif.
2. Baik jika menunjukkan
sudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang
berbeda dan kreatif tetapi masih belum ajeg/konsisten.
3. Sangat baik jika menunjukkan
sudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda
dan kreatif secara terus menerus dan ajeg/konsisten.
Bubuhkan
tanda * pada kolom yang sesuai
|
NO
|
NAMA
SISWA
|
SIKAP
|
||||||||
|
|
|
AKTIF
|
BEKERJA
SAMA
|
TOLERAN
|
||||||
|
|
|
KB
|
B
|
SB
|
KB
|
B
|
SB
|
KB
|
B
|
SB
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
KETERANGAN :
KB
: Kurang baik
B : Baik
SB : Sangat baik
LEMBAR
PENGAMATAN PENILAIAN KETERAMPILAN (PROYEK)
Mata Pelajaran :
Matematika
Kelas/Semester :
X/1
Tahun Pelajaran :
2013/2014
Waktu Pengamatan :
Selama pembelajaran
Indikator terampil
menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah yang relevan yang
berkaitan dengan pola dan konsep barisan dan deret
1. Kurang terampil jika sama
sekali tidak dapat menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah
yang relevan yang berkaitan dengan pola dan konsep barisan dan deret
2. Terampil jika menunjukkan
sudah ada usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah
yang relevan yang berkaitan dengan pola dan konsep barisan dan deret belum
tepat
3. Sangat terampill, jika menunjukkan
adanya usaha untuk menerapkan konsep/prinsip dan strategi pemecahan masalah
yang relevan yang berkaitan dengan pola dan konsep barisan dan deret sudah
tepat
Bubuhkan
tanda √pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan
|
KELOMPOK
|
KREATIFITAS
|
KEJELASAN
JAWABAN LENGKAP
|
KERJASAMA
DENGAN KELOMPOK
|
KEBENARAN
JAWABAN
|
|
1
|
|
|
|
|
|
2
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
RUBRIK
PROYEK
|
NILAI
|
KRITERIA
|
|
4
|
Kreatifitas
tinggi, kejelasan jawaban lengkap, kerjasama sangat bagus, jawaban benar
|
|
3
|
Kreatifitas
tinggi, kejelasan jawaban tidak lengkap, kerjasama sangat bagus, jawaban
benar
|
|
2
|
Kreatifitas
sedang, kejelasan jawaban tidak lengkap, kerjasama tidak bagus, jawaban benar
|
|
1
|
Tidak
mengerjakan tugas/proyek
|
Lamongan
,...................................2013
|
Mengetahui,
Kepala
Sekolah
Anugerah
Raharjo, S.Pd
|
Guru
Mata Pelajaran
Nofitasari
|
BUKU SISWA
Materi
“barisan dan deret aritmatika”
(Materi matematika untuk kelas X
semester ganjil kurikulum 2013)
A.Barisan Bilangan
|
Apa yang akan
kamu pelajari?
· Pengertian barisan
bilangan
· Mengenal unsur-unsur
barisan, suku, dan beda.
· Menentukan suku ke- n
dari suatu barisan
Kata Kunci:
· Barisan
· Suku ke- n
|
1.
Pengertian Barisan
Setiap senin di sekolahmu
selalu diadakan upacara bendera.tentunya siswa – siswi akan membentuk suatu
barisan yang rapi.
· Bagaimanakah cara mengatur barisan itu
supaya rapi?
· Bagaimanakah cara mengurutkan barisan?
· Apakah ada aturan untuk mengurutkannya?
Pada suatu barisan, tinggi 6 siswa masing- masing
adalah 135 cm, 140 cm, 150 cm, 155 cm, 160 cm, dan 170 cm. Apakah barisan diatas membentuk suatu
pola?
Barisan bilangan
adalah urutan bilangan –bilangan dengan aturan atau pola tertentu. Setiap
bilangan pada barisan bilangan disebut suku.
Perhatikanlah setiap barisan dibawah ini!
a.
1, 3,
5, 7, 9,11, seterusnya yang selalu bilangan ganjil
b.
-20,
-15, -10, -5, 0, 5, 10, dan seterusnya yang selalu berselisih 5
Barisan
bilangan pada a sering kita
jumpai dalam kehidupan sehari – hari.misalnya, ketika mencari nomor rumah 5,
kamu tentu akan mencari pada sisi yang lain yaitu deretan rumah bernomor
ganjil.
Coba perhatikan barisan bilangan 1, 3, 5, 7, 9,
11, dan seterusnya.
- Suku ke-1 adalah 1, biasanya ditulis
dengan lambang U1 = 1
- Suku ke-2 adalah 3, biasanya ditulis
dengan lambang U2 = 3
- Suku ke-3 adalah 5, biasanya ditulis dengan
lambang U3 = 5
- Dan seterusnya.
Berapakah suku ke-4?
Dalam menentukan suku ke-4 dari barisan harus
diketahui tata urutan suku barisan itu. Dalam hal ini, suatu bilangan yang
tetap ditambahkan agar didapat bilangan di depannya. Bilangan tetap itu disebut selisih atau beda.
Beda itu boleh positif atau negatif. Jika beda itu
positif, maka barisan itu menjadi bertambah nilainya. Jika beda itu negatif,
maka barisan itu menjadi berkurang nilainya.
Contoh 4:
Suatu barisan bilangan diketahui 2, 5, 8,
11....dan seterusnya.tentukanlah
a.
Suku
ke-1
b.
Suku
ke-2
c.
Suku
ke-3
d.
Suku
ke-4
e.
Suku
ke-5
f.
Beda
g.
Aturan
tiap suku
Penyelesaian
a.
U1= 2
b.
U2= 5
c.
U3= 8
d.
U4= 11
e.
U5
= 14
f.
Bedanya
3
g.
Aturan
tiap suku diperoleh dengan cara menambahkan 3
2.
Menentukan suku ke-n dari suatubarisan
Penulisan barisan bilangan dapat dinyatakan dalam
rumus aljabar. Misalkan: barisan bilangan ganjil 1, 3, 5, 7,dan
seterusnya.dapatkah kamu menyebutkan suku ke-100? untuk menjawab pertanyaan
diatas, kamu tidak perlu menulis baris bilangan sampai suku ke-100. Akan
tetapi, gunakanlah suku ke-n dari barisan bilangan. Barisan bilangan
ganjil tadi dapat kita petakan dengan barisan bilangan asli.
1 3 5 7 Un
Pada tiap suku mempunyai beda 2, maka rumus suku
ke-n bilangan ditulis dengan Un = 2n – 1 dengan
n anggota bilangan asli.
Untuk suku ke-100, suku ke-n tinggal
diganti menjadi U100 = 2 x 100 -1 =199. Jadi, suku ke-100
dari bilangan ganjil adalah 199
Contoh 5 :Carilah suku ke-n dari suatu barisan 1, 4,
7, 10 .....dan seterusnnya. Tentukan suku ke 200 barisan berikut.
Penyelesaian:Beda suku yang berurutan adalah suku-n adalah Un = 3n – 2
U200 = 3 x 200-2 = 598
|
Apa yang akan kamu pelajari?
·
Pengertian barisan dan deret aritmatika
naik apa turun.
·
Menentukan rumus suku ke-n dari
barisan aritmatika dan jumlah n suku pertama deret aritmatika.
·
Menghitung nilai suku ke –ndari
barisan aritmatika dan jumlah n suku pertama deret aritmatika.
Kata kunci
·
Beda
·
Suku ke-n
|
A.
Barisandan Deret Aritmatika
1. Barisan Aritmatika
Barisan Aritmatika adalah suatu barisan bilangan yang suku
selanjutnya diperoleh dengan menambah atau mengurangi dengan suatu bilangan
yang tetap kepada suku sebelumnya. Bilangan yang tetap itu disebut selisih atau
beda. Apabila bedanya positif, maka barisan itu naik. Apabila bedanya negatif,
maka barisan itu turun. Perhatikan barisan – barisan berikut.
a.
100,
90, 80, 70,....
b.
6,
12, 18, 24,....
Barisan a dan b merupakan barisan aritmatika. Pada
tiap barisan bilangan- bilangan diatas, beda dua suku yang berurutan selalu
tetap (konstan).Suatu barisan U1, U2, U3, U4......
Un, disebut barisan aritmatika jika untuk
setiap nilai n berlaku.U2 -U1, U3-U2
=...... Un- Un-1= b,
dengan b suatu tetapan yang tidak tergantung pada n
Menentukan
Rumus Suku Ke-nBasisan Aritmatika
Jika suku pertama U1kita
misalkan a, beda kita misalkan b, dan suku ke-n kita
misalkan Un maka barisan aritmatika ditulis sebagai berikut
a a+b a+2b a+3b
a+(n-1)b
rumus suku ke-n suatu barisan aritmatika adalah
U= a+(n-1)b
Sifat-sifat suku ke-n
Un = a + (n - 1)b = a + bn – b
= bn + (a - b)
Jadi suku ke-n suatu barisan aritmatika dalah fungsi linear dari n, dengan
bilangan asli.
Contoh 6 :suatu
barisan aritmatika 2, 5, 8, 11. . . dan seterusnya.Tentukanlah :
a.
suku
pertama
b.
beda
c.
suku
ke-15
d.
rumus
suku ke-n
penyelesaian :
Barisan 2, 5, 8, 11. . . dan seterusnya.
a.
suku
pertama U1= a= 2
b.
Beda b = 3
c.
Suku
ke-15
U15
= a + (n-1)b
= 2 + (n-1)b
= 2 + (14)3
=2 + 42
= 43
d. Rumus
suku ke-n
Un = a + (n-1)b
= 2 + (n-1)3
= 2 + 3n-3
Un = 3n-1
Contoh 7 :Suku pertama sebuah barisan aritmatika sama dengan 2, sedangkan bedanya
sama dengan 5.
a.
Carilah
suku yang ke-15
b.
Suku
berapakah yang nilainya sama dengan 97
Penyelesaian:
a.
U1
= a = 2
b = 5
Un= a + ( n – 1)b
= 2 + (n
- 1)5
= 2 + 5n-
5
= 5n
– 3
U15= 5 x 15 – 3
= 75 – 3
= 72
jadi suku ke-15 adalah 72
b.
U
n= 97
U n= 5n
– 3
5n = U n
+ 3
5n = 97 + 3
5n = 100
n = 2
Jadi suku yang nilai 97
adalah suku yang ke-20
2.Deret Aritmatika
Pada bahasan sebelumnya kamu sudah mempelajari barisan aritmatika. Jika
suku-suku barisan aritmatika kita jumlahkan, maka deret tersebut disebut deret
aritmatika.
Jika U1, U2,U3.... Un
adalah suku-suku barisan aritmatika, maka U1+U2+U3....+Un
disebut deret aritmatika.
Jika jumlah n suku pertama deret aritmatika itu
kita lambangkan dengan Sn maka
Sn = U1+U2+U3....+Un
Seorang matematikawan karl friedrech gauss ( 1777
– 1855 ) ketika di sekolah dasar, gurunya meminta dia untuk menjumlahkan
seratus bilangan asli yang pertama. Gauss memberikan jawaban dalam beberapa
detik, dia menjawab sebagai berikut:
S100 = 1 + 2 + 3 +....+ 99 + 100
S100 = 100 + 99 +....+ 2 + 1
2S100=
101 + 101 + 101 + ....+ 101 +101
2S100
= 100 x 101
2
Jadi,
jumlah seratus bilangan asli yang pertama adalah 5050.
Kita
dapat mencari rumus untuk jumlah n buah suku pertama (Sn),
dari aritmatika , yaitu
Sn = U1+U2+U3....+Un
Atau Sn = a+ (a + b) + ( a+2b) +.....+( Un -2 b) +( Un – b ) + Un
Kemudian, urutan suku-suku
dijumlahkan dan dibalik sehingga
Sn = a+ (a +
b) + ( a+2b) +.....+( Un -2 b) +( Un – b ) + Un
Sn = Un
+( Un – b ) +( Un -2 b) +.....+( a+2b) +(a + b) + a
Penjumlahan n suku, tiap sukunya (a + Un )
2Sn = n (
a + Un )
Sn=
( a + Un )
Sn=
( a + Un )atauSn=
[ 2a+(n – 1 )b ]
Un
= a + ( n - 1)b
Jadi, Sn merupakan
fungsi kuadrat dari n dengan n bilangan asli.
Contoh 8: Ditentukan
deret aritmatika 1 + 4 + 7 + 10 + ....,Carilah Rumus suku ke-n
Rumus jumlah n suku pertama
Jumlah 20 suku pertama
Penyelesaian:
- Diketahui: a = 1, dan b = 3
Un
= a + ( n - 1)b
= 1 + ( n - 1)3
= 3n – 1
- Jumlah n suku pertama
2
2
2 2
- Jumlah 20 suku
pertama
2 2
2 2
= 600 – 10
= 590
Jadi, 20 jumlah suku pertama adalah 590.
LAMPIRAN 1 : Bahan Ajar Materi (LKS)
LEMBAR KERJA SISWA
SEKOLAH
: SMKN 3 KUNINGAN
KELAS/SEMESTER : X/SATU
MATERI POKOK : Konsep Barisan dan deret
Aritmatika
PETUNJUK KERJA
a.
Lembar Kerja ini memuat permasalahan yang
harus diselesaikan.
b.
Di sepanjang Lembar Kerja Kamu akan menemukan
perintah-perintah berikut ini:
·
AMATI:
amati permasalahan yang diberikan di bawah ini
·
TULISKAN KEMBALI: menuliskan kembali materi yang telah
diberikan dalam kalimat matematika
·
PIKIRKAN: memikirkan
materi atau informasi yang ditampilkan sebagai petunjuk dalam menyelesaiakan
permasalahan;
·
LATIHAN: mengerjakan
soal
·
SELIDIKI:
mengembangkan keterampilan berpikir dalam penyelesaian masalah
|
Nama
siswa:
1. ………………………………………………………………………..
2. …………………………………………………………………..........
3. ……………………………………………………………………….
|
Selamat Belajar
1.selesaikan soal di bawah ini !
Jawaban :
2. Seorang pegawai mendapat
gaji pertama Rp.1000.000,- setiap ia mendapatkan kenaikan gaji Rp.100.000,-.
Berapakah jumlah pendapatan yang diterima pegawai tersebut dalam waktu 10
bulan. Jika anda perhatikan masalah tersebut sebenarnya permasalahan deret aritmatika
dalam menentukan jumlah n suku. Suku pertama dari deret tersrebut 1000.000 dan
bedanya 100.000 dengan demikian, deret aritmatika dari masalah tersebut adalah
1000.000 + 1.100.000 + . . . + U10
Jawaban:
............................................................................................................................................
............................................................................................................................................
............................................................................................................................................
Kunci
jawaban lembar kerja siswa
1.
Diketahui:
Misalkan:
a: Penghasilan
kebun tebu Pak Arman pada akhir tahun 2000.
b: Perkiraan
kenaikan penghasilan kebun tebu Pak Arman setiap akhir tahun.
P2005: Perkiraan Penghasilan kebun tebu Pak
Arman pada akhir tahun 2005.
Jadi, a= Rp. 6.000.000,- b= Rp. 500.000,- dan
P2005 akan dicari.
Karena perkiraan kenaikan penghasilan kebun
tebu Pak arman setiap akhir tahun adalah tetap, maka untuk menentukan
penghasilan kebun Pak Arman pada akhir tahun 2005, kita dapat menerapkan rumus
unsur ke ndari barisan aritmatika dengan:
U1 = a = Rp. 6.000.000,-
b= Rp. 500.000,-
P2005 = U6 = a + 5b
= 6.000.000 + 5 (500.000)
= 6.000.000 + 25.500.000
= 8.500.000.
Jadi perkiraan penghasilan kebun tebu Pak arman
pada akhir tahun 2005 adalah Rp. 8.500.000,-
2.
Suku
ke-10 dari deret tersebut adalah
U10= a + 9b
= 1000.000 + 9(100.000)
= 1.900.000
Sehingga jumlah pendapatan yang diterima
pegawai tersebut:
S10=
(1.000.000 + 1.900.000)
= 5 (2.900.000)
= 14.500.000
Jadi, jumlah pendapatan yang diterima pegawai
tersebut selama kurun waktu 10 bulan adalah Rp.14.500.000,-
LAMPIRAN 2
SOAL KUIS
BAB BARIS DAN DERET ARITMATIKA
1.
Setiap bulan, Gofur
selalu menabung di bank. Pada bulan pertama, ia menabung sebesar Rp10.000,00,
bulan kedua ia menabung sebesar Rp11.000,00, bulan ketiga ia menabbung
Rp12.000,00,. Demikian seterusnya, ia selalu menabung lebih Rp1000,00, setiap
bulannya.
Nyatakanlah
uang yang ditabung Gofur (dalam ribuan rupiah) untuk 8 bulan pertama.Tentukan
jumlah uang yang ditabung Gofur pada bulan ke-12
2.
Sebuah perusahaan
permen memproduksi 2.000 permen pada tahun pertama. Oleh karena permintaan
konsumen setiap tahunnya, perusahaan tersebut memputuskan untuk meningkatkan
produksi permen sebanyak 5% dari produksi awal setiap tahunnya.Nyatakan jumlah
permen yang diproduksi perusahaan tersebut pada lima tahun pertama dalam
barisan bilangan.
Tentukan
jumlah permen yang diproduksi pada tahun ke-7 (U7)
Tentukan jumlah
permen yang diproduksi sampai tahun ke-7 (S7)
3.
sebuah barisan
aritmetika memiliki suku pertama 6 dan suku ketuju 24.
a.
tentukan beda dan tuliskan sepuluh suku pertama dari barisan tersebut.
4.
diketahui suatu barisan
aritmetika: -8, -3, 2, 7, 12, 17, . . . tentukan rumus suku ke n yang berlaku
pada barisan tersebut
5.
Tentukan suku ke-8 dan ke-20 dari
barisan –3, 2, 7, 12, .
6.
Diketahui barisan aritmetika –2, 1,
4, 7, ..., 40. Tentukan banyak suku barisan tersebut.
7.
Suku ke-10 dan suku ke-14 dari
barisan aritmetika berturut-turut adalah 7 dan 15. Tentukan suku pertama, beda,
dan suku ke-20 barisan tersebut.
8.
Jumlah n suku pertama dari deret
aritmetika adalah Sn = 2n2 – 4n. Tentukan suku
ke-n deret tersebut dan bedanya. Tentukan pula U9.
KUNCI
JAWABAN SOAL KUIS
1.
Dalam ribuan rupiah,
uang yang ditabung Gofur 8 bulan pertama adalah sebagai berikut:
10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17
Diketahui
: U1 = 10
b
= 1
U12 = a + ( n – 1 )
= 10 + ( 12 – 1 ) 1
= 10 + 11
= 21
Jadi,
uang yang ditabung Gofur pada bulan ke-12 adalah Rp21.000,00.
2.
Diketahui: a =2.000, b =
x
2.000 = 100
Barisan
bilangannya adalah sebagai berikut:
2.000,
2.100, 2.200, 2.300, 2.400
b. Un=
a + (n – 1) b maka U7=
2.000 + (7 – 1)
= 2.000 + 6 x 100
= 2.000 + 600
= 2.600
Jadi,
jumlah permen yang diproduksi pada tahun ke-7 adalah 2.600 permen.
c.Sn=
(a
+ Un) maka S7 =
(2.000 + 2.600)
= 3,5 X
4.600 = 16.100
Jadi
jumlah permen yang telah diproduksi sampai tahun ke-7 adalah 16.100 permen
3.
Diketahui : suku
pertama = a = 6
Suku
ke tujuh = U7 = 36
Untuk
menentukan beda:
Un
= a +(n-1) b maka U7 = 6 + (7-1)b
36 = 6 + 6b
36-6 = 6b
b = 5
jadi, beda pada barisan itu adalah 5.
Dengan suku pertama 6 dan beda 5
diperoleh barisan aritmatika sebagai berikut 6, 11, 16, 21, 31, 36, 41, 46, 51
4.
Diketahui: a = U1 =-8
b = U2 – U1 =
-3 – (-8)
= -3
+ 8 = 5
Jadi,
rumus umum yang berlaku pada barisan
tersebut adalah
Un = a +(n-1) b
= -8 + (n-1) 5
= -8 + 5n -5
= 5n – 13
5.
Suku pertama adalah a = –3 dan
bedanya b = 2 – (–3) = 5.
Dengan
menyubstitusikan a dan b, diperoleh Un = –3 + (n – 1)5.
Suku ke-8
: U8 = –3 + (8 – 1)5 = 32.
Suku ke-20
: U20 = –3 + (20 – 1)5 = 92.
6.
Diketahui barisan aritmetika –2, 1, 4, 7, ...,
40.
Dari barisan
tersebut, diperoleh a = –2, b = 1 – (–2) = 3, dan Un = 40.
Rumus suku
ke-n adalah Un = a + (n – 1)b sehingga :
40 = –2 + (n – 1)3
↔ 40 = 3n – 5
↔ 3n = 45
Karena 3n = 45, diperoleh n = 15.
Jadi, banyaknya suku dari barisan di
atas adalah 15.
7.
Diketahui U10 = 7
dan U14 = 15. Dari rumus suku ke-n barisan
aritmetika Un = a + (n – 1)b, diperoleh 2 persamaan, yaitu
:
U10 = 7 sehingga
diperoleh a + 9b = 7 ............................ (1)
U14 = 15 sehingga
diperoleh a + 13b = 15 ........................ (2)
Untuk menentukan nilai a dan b, kita gunakan metode
campuran antara eliminasi dan substitusi. Dari persamaan (1) dan (2), diperoleh
:
|
a + 9b
|
= 7
|
|
|
a + 13b
|
= 15
|
-
|
|
–4b
|
= –6
|
|
|
B
|
= 2
|
Dengan menyubstitusikan b = 2 ke persamaan (1),
diperoleh :
a + 9(2) = 7 ↔ a =
–11
Dengan demikian, diperoleh suku ke-n adalah Un =
–11 + (n – 1)2.
Jadi, suku ke-20 adalah U20 = –11
+ (20 – 1)2 = 27.
8. Sn
= 2n2 – 4n → p = 2, q = –4
Un = 2pn + (q – p)
= 2 x 2 x n + (–4 – 2)
= 4n – 6
Beda = 2p = 2(2) = 4
Suku ke-10 dapat ditentukan dengan U9
= S9 – S8
S9 = 2(92) – 4(9) = 126
S8 = 2(82) – 4(8) = 96
Jadi, U9 = 126 – 96 = 30
Tidak ada komentar:
Posting Komentar